Senin, 18 Maret 2013

Ruang Lingkup Orientalisme; Mengenal Dunia Timur


(...jenius-jenius Eropa yang resah dan ambisius...yang tak sabar ingin segera menggunakan berbagai alat penyiksanya yang baru...)
-Jean-Baptise-Joseph Fourier, Preface Historique (1809),
Description de I’Egypte.


Pada tanggal 13 Juni 1910, Arthur James Balfour “Seorang peneliti Konservatif dan Negarawan, dimana ia menjabat sebagai Perdana Mentri dari Juli 1902 ke Desember 1905, yang kemudian Sekretaris Luar Negeri 1916-1919, yang lahir di Skotlandia yang dididik dari kecil sebagai filosofi” berpidato di depan Majelis Rendah Inggris tentang “Masalah-masalah yang berhubungan dengan pendudukan inggris di Mesir”. Yang mana masalah-masalah ini, menurutnya sama sekali berbeda. Pada kesempatan itu, Balfour berorasi dalam kapasitasnya sebagai anggota parlemen gaek, kawakan, mantan sekretaris pribadi Lord Salisbury, mantan sekretari utama Skotlandia, mantan Perdana Mentri, dan seorang pakar yang telah berpengalaman dalam mengatasi berbagai krisis, mencapai beragam prestasi, dan melakukan perubahan-perubahan di luar negeri. Dalam sepanjang keterlibatannya dengan urusan-urusan kekaisaran Inggris, Balfour mengabdi kepada seorang raja yang pada 1876 ditahbiskan sebagai Maharani India. Tidak hanya itu, Balfour bahkan pernah ditempatkan secara istimewa dalam jabatan-jabatan penting saat terjadi perang Afganistan dan Zulu, pendudukan Inggris atas Mesir tahun 1882, denga tewasnya Jendral Gordon di Sudan.
Selain karena status sosial, pengetahuan, dan kecerdikannya yang luar biasa dengan pendidikan yang Ia kenyam di Eton dan Trinity College, Cambrige. Dengan posisi yang Ia duduki selama itu dalam kekaisaran Inggris membuat pidato yang disampaikan pada saat itu memiliki otoritas yang patut kita perhitungkan. Tentu saja selain faktor-faktor  tersebut, masih banyak faktor yang menyebabkan Ia dalam berpidato begitu didaktis dan moralitas tersebut tampak memiliki pengaruh yang luar biasa. Terkait dengan pidato yanng diungkapkan oleh Balfour tersebut, menimbulkan berbagai pertanyaan terhadap para anggota dewan, dan dengan berbekal ilmu yang dimilikinya balfour memberikan informasi dan penjelasan yang lebih detail. Dan dalam menanggapi berbagai pertanyaan, dia teringat akan tantangan yang diajukan oleh J.M. Robertson, seorang majelis dari Tyneside. Dari tantangan itu, Balfour kemudian balik bertanya pada Robertson: “Hak apa yang Anda miliki untuk bersikap superior terhadap orang-orang Timur itu?” pertanyaan ini menarik, bukan hanya karena diucapkan seorang yang memiliki otoritas intelektual dan politis, namun juga karena diungkapkan dengan menggunakan istilah “orang-orang Timur”.
Penggunaan kata “Timur” ini bersifat kanonik, dimana istilah ini telah digunakan oleh Chauser dan Mandville yang merujuk pada Asia atau Timur, baik secara geografis, moral, maupun budaya. Di Eropa istilah Timur sudah lazim digunakan untuk menyebut kata-kata seperti kepribadian Timur, suasana Timur, kisah-kisah Timur, despotisme Timur atau cara reproduksi Timur. Tanpa menjelaskan apa dan bagaimana “Timur” itu, orang Eropa sudah mengerti bahwa Timur merupakan “kawasan” yang nun jauh yang memiliki keeksotikan dan perbedaan yang nyata dengan Barat. Marx juga pernah menggunakan istilah tersebut, yang kini Balfour juga menggunakannya. Namun pilihan Balfour atas kata Timur ini tentu saja dapat dimaklumi dan tidak perlu diperdebatkan.
Di dalam petikan pidato Balfour, ada dua tema besar yang bisa didapat, yakni pengetahuan dan kekuatan. Jadi dalam hal ini balfour memang menjustifikasi perlunya pendudukan Inggris atas Mesir, namun dalam arti pendudukan ini bukan kekerasan akan tetapi menyangkut soal pengetahuan Inggris (kita) tentang Mesir dan tidak sama sekali terkait dengan kekuatan militer atau ekonomi Inggris yang lebih dominan dari pada Mesir. Bagi Balfour sendiri, pengetahuan berarti penelitian dan peninjauan terhadap suatu peradaban , mulai dari asal mulanya sampai zaman keemasannya, hingga zaman keruntuhannya (yang juga berarti bahwa kita harus mampu melakukan penelitian tersebut). Pengetahuan berarti terbang melampaui batas kekinian, melampau diri, menuju wilayah asing dan jauh. Secara inheren, objek pengetahuan semacam ini mudah untuk diteliti. Objek tersebut merupakan sebuah “fakta” yang bilamana berkembang akan berubah atau mengubah diri sedemikian rupa mejadi suatu peradaban meskipun secara ontologis nantinya akan bersifat stabil. Memiliki pengetahuan atas objek ini berarti memiliki dominasi dan kewenangan atasnya, dan sejak itu sejak “kita” memiliki pengetahuan tentang Timur, kewenangan di sini pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan mengingkari otonomi negeri Timur itu sendiri.
Bagaimanapu itu, Mesir bagi orang Inggris adalah Mesir bagi Balfour. Dimana pengetahuan tentang mesir itu membuat persoalan-persoalan seperti inferioritas (rasa rendah diri) dan superioritas tampak sebagai persoalan-persoalan yang tak lagi berarti. Balfour memang tak mengingkari superioritas Inggris dan inferioritas Mesir. Akan tetapi, ia lebih menganggap bahwa fenomena ini sebagai sesuatu yang tak perlu dipersoalkan. Dalam sebuah pidatonya Balfour yang kompleks, yang akan tetapi ada satu hal yang lepas dari pandangan Balfour  yakni sikap penerimaan orang-orang Mesir terhadap kehadiran bangsa Inggris. Balfour tak memberikan bukti yang kuat atas pandangan orang Mesir atas itu, karena bagi Balfour bahwa setiap orang Mesir yang akan berbicara kemungkinan besar adalah orang “penghasut yang ingin menimbulkan berbagai kesulitan” yang tak akan memaafkan dan melupakan kesulitan-kesulitan dari bangsa Asing.
Seusai Balfour mengutarakan pidatonya mengenai masalah-masalah etis, ia akhirnya beralih pada masalah-masalah praktis. Kata Balfour “Jika ini adalah persoalan yang harus kita urus, dengan atau tanpa ucapan terima kasih dari orang lain, dengan atau tanpa ingatan atas kerugian yang telah kita hilangkan dari mereka, dimana ia sama sekali tidak memasukkan dalam kerugian tersebut, hilangnya kemerdekaan Mesir atau setidaknya penundaan kemerdekaan mereka untuk jangka waktu yang telah kita berikan pada mereka yang sekali lagi jika itu memang tugas kita, maka bagaimana tugas itu harus kita laksanakan?”
Logika Balfour sangatlah menarik dalam sebuah pidatonya yang berisi “Penduduk-penduduk pribumi (Timur) memiliki perasaan naluriah bahwa pihak-pihak asing yang berurusan dengan mereka tidak disokong oleh kekuatan, kewenangan, simpati, dan dukungan yang penuh dan ikhlas dari negara yang mengirim mereka. Penduduk-penduduk mereka merasa kehilangan semua sense of order-nya yang menjadi basis peradaban mereka, sebagaimana para opsir  kita yang kehilangan rasa kekuatan dan otoritas yang merupakan basis bagi segala sesuatu yang bisa mereka perbuat demi orang-orang atau kepada siapa mereka telah dikirim”.  Logika Balfour tersebut sangatlah menarik karena benar-benar konsisten dengan premis-premis yang ada di setiap isi pidatonya.  Inggris tau bahwa Mesir tak mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri, sehingga Inggris memperkuat dengan menduduki Mesir. Sehingga tak heran bahwa orang asing mampu menjadi soko guru bagi peradaban Mesir pada saat itu, dan Mesir sendiri secara tidak langsung mendesak pada Inggris untuk menduduki Mesir.
Dalam sebuah pidatonya Balfour tidaklah secara langsung mengatas namakan bangsa-bangsa Timur dengan hanya mereka berbeda bahasa dengan Balfour, namun bukan berarti Balfour mengesampingkan bangsa-bangsa Timur, hal ini terlihat dari Balfour menjawab atas pertanyaan tentang pengukuhan atas ras mereka yang diduduki bangsa asing. Jika keberhasilan Inggris dalam pendudukan di Mesir sebagai suatu keistimewaan, hal ini bukan berarti tak rasional dan tanpa alasan.  Hal terpenting dari teori yang digunakan oleh Balfour adalah bahwa teori tersebut ternyata memang benar-benar terjadi di Mesir. Argumentasi Balfour sangatlah jelas yang dapat dipahami, dengan adanya penguasaan dan yang dikuasai. Sehingga disini dapat dipahami bahwa pengetahuan tentang ras-ras objektif atau bangsa-bangsa Timur dapat membuat “manajemen” Cromer dan Balfour menjadi lebih mudah dan menguntungkan. Bagaimanapun, sebuah pengetahuan itu memberi kekuasaan. Apalagi dalam dialektika informasi dan kontrol yang menguntungkan saat sebuah kekuasaan itu berlaku suatu pandangan bahwa semakin tinggi kekuasaan, maka semakin banyak pengetahuan yang dibutuhkan, begitu juga seterusnya.
Menurut Cromer, imperialisme Inggris tak akan runtuh jikalau hal-hal seperti militerisme dan egoisme komersial di tanah air serta “pranata-pranata bebas” (free institution) di daerah koloni. Yang menurut kode Moralitas Kristiani bahwa istilah tersebut merupakan lawan dari istilah “pemerintahan Inggris”. Pranata-pranata bebas penduduk pribumi, yang ditandai dengan berakhirnya pendudukan asing dan menjelma menjadi semacam kedaulatan nasional yang benar-benar mandiri, menjadi sasaran kritik yang ditolak oleh Cromer. Bahkan, Cromer dengan tegas menyatakan bahwa “masa depan Mesir yang sesungguhnya... tidak terletak pada nasionalisme yang sempit, yang hanya meliputi orang-orang mesir pribumi saja... tetapi justru terletak pada kosmopolitanisme (pengetahuan dan wawasan) mereka yang luas.
Bagi Cromer, “kesalahan” atau bahkan “kejahatan” dalam diri orang Timur adalah karena ia adalah orang Timur. Cromer menyatakan Mesir dengan tegas bahwa nasionalisme Mesir merupakan suatu “gagasan yang sama sekali baru” dan nasionalisme mereka “lebih merupakan hasil dari pengaruh orang luar dari pada pengaruh pertumbuhan orang pribumi yang sebenarnya”. Ada dua unsur pokok dalam hubungan antara Timur dan Barat, unsur yang pertama adalah pengetahuan sistematis yang terus tumbuh di Eropa mengenai dunia Timur, suatu pengetahuan yang keberadaannya diperkuat dengan munculnya invasi-invasi kolonial, perhatian yang besar terhadap hal-hal yang asing tak biasa, yang kemudian dieksploitisir oleh sains etnologi , anatomi perbandingan, filologi (Sebuah ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, terutama dari masa lampau yang sering kali sulit untuk dipahami karena dengan bahasa yang sulit juga. Karena manuskrip dicetak berulang-ulang maka akan memuat tentang masalah-masalah), dan sejarah yang tengah berkembang. Unsur yang kedua, yang muncul dalam relasi antara dunia Timur dan Eropa adalah bahwa Eropa selalu berada dalam “kedudukan yang kuat” (untuk tidak mengatakan “mendominasi).
Jika hakikat orientalisme adalah pembedaan pembedaan yang tak dapat dihapuskan antara superioritas Barat dan inferioritas Timur, maka kita harus siap untuk mencatat bagaimana dalam perkembangan dan sejarah kelanjutannya, orientalisme justru semakin memperdalam dan mempertajam perbedaan ini. Orientalisme kemudian dijadikan suatu diskursus istimewa yang tak jarang dikaitkan dengan diskursus-diskursus lain, seperti imperialisme, positivisme, utopianisme, historisme, Darwinisme, rasialisme, Freudianisme, Marxisme, Spenglerisme, dan sebagainya. Orientalisme sebagai ilmu sosial sebenarnya telah memiliki “paradigma-paradigma” riset, masyarakat-masyarakat terpelajar, dan establishment-nya sendiri.
Sehingga di sini Penulis bisa menyimpulkan bahwa pendudukan bangsa Barat (Inggris) kepada bangsa Timur (Mesir khususnya) sangatlah berpengaruh pada pengetahuan maupun pengaruh budaya, sehingga dalam pengaruh disana sangatlah dibutuhkan oleh bangsa pribumi pada bangsa asing untuk menumbuhkan negara tersebut diamana bisa dijadikan sebagai soko guru peradaban dunia Timur, dalam penguasaan Barat terhadap Timur tidaklah hanya melalui jalur koloni yang dapat merendahkan status bangsa Timur itu sendiri, yang kemudian dengan imperialisme pada kehidupan Timur. Inilah puncak kepercayaan diri orientalis. Sehingga tak satupun generalitas yang tak dipandang sebagai kebenaran. Tak satupun atribut-atribut ketimuran yang diterapkan pada perilaku-perilaku orang Timur pada dunia nyata.
W.Said, Edward. Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukan Timur sebagai Subjek. 2010; Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta, 19-03-2013/00.45


Tidak ada komentar:

Posting Komentar